Jokowi, mewujudkan kesejahteraan dan keadilan melalui percepatan pembangunan
Jokowi,
mewujudkan kesejahteraan dan keadilan melalui percepatan pembangunan
Oleh: Wijanarko
Sejak dideklarasikannya proklamasi
kemerdekaan pada tahun 1945, sejak saat itulah bangsa Indonesia benar-benar memiliki
kekuasaan yang absolute terhadap
tanah airnya sendiri. Namun dengan lepasnya Indonesia dari belenggu penjajah
bukan berarti Indonesia dapat berpuas dan berbangga diri. Pemerintah memiliki
segudang tugas rumah tangga yang harus segera dibenahi diantaranya seperti perencangan
undang-undang dasar dan sistem birokrasi, pemberantasan kemiskinan, penyediaan pendidikan
yang layak, penyediaan lapangan pekerjaan, kemandirian ekonomi, pembangunan
infrastruktur dan masih banyak yang lainnya. Setiap kepala Negara disetiap
periode pasti berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk menciptakan kesejahteraan
dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan caranya masing-masing.
Salah satunya ialah dengan melakukan percepatan pembangunan khususnya dalam
bidang infrastruktur seperti yang dilakukan oleh presiden Indonesia yang ke-7,
Joko Widodo.
Joko
Widodo atau kerap disapa dengan Jokowi merupakan Presiden Indonesia yang cukup popular dikalangan masyarakat Indonesia dan
bahkan Internasional. Bukan karena skandal yang ia perbuat melainkan kinerja
kepemerintahannya yang bisa dibilang cukup apik.
Tak ayal, berdasarkan Survei Indo Barometer yang dilakukan pada tanggal 15 - 22
April 2018 lalu di 34 Provinsi di Indonesia dengan melibatkan 1.200 responden, indeks
tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi-JK mencapai 65,1%. Hal ini
menandakan bahwa secara perlahan masyarakat merasakan adanya peningkatan
kesejahteraan dan keadilan yang diciptakan oleh kabinet pemerintahan Jokowi-JK
ini. Program “Nawacita” yang digagas oleh Jokowi-JK secara perlahan
terealisasikan dengan baik khususnya dalam hal pembangunan Indonesia dari pinggiran
dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan.
Konsep
pembangunan Indonesia dari daerah pinggiran merupakan konsep yang brilliant yang mematahkan persepsi dan cara
pandang tradisional akan makna pembangunan di Indonesia. Dahulu pembangunan sangat
terfokus di Ibu Kota dan daerah-daerah di sekitar pulau jawa saja dengan dalih pulau
jawa merupakan pusat pemerintahan dan ketahanan di Indonesia. Sehingga secara
tidak langsung hal itu menciptakan ketidak stabilan dalam pemerataan
pembangunan di pelosok nusantara. Banyak daerah-daerah di luar pulau jawa yang
belum merasakan nikmatnya menggunakan fasilitas publik seperti penerangan listrik,
jalan raya beraspal dan air bersih sehingga istilah “kesejahteraan” bagi
sebagian masyarakat Indonesia seperti ibarat “jauh panggang dari api”. Namun kondisinya
kini sudah jauh berbeda. Persepsi bahwa ketahanan NKRI itu berada di pulau jawa
diputar 360 derajat menjadi (bahwa ketahanan NKRI) berada di wilayah daerah
terdepan dan terluar di Indonesia, sehingga daerah-daerah 3T (terdepan, terluar
dan terbelakang) mendapat keistimewaan dalam segi pembangunan yang berdampak
pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.
Jokowi
dengan program Nawacita nya bagai angin segar bagi masyarakat Indonesia khususnya
di pelosok nusantara. Rakyat Indonesia baik yang di pulau jawa maupun yang
diluar jawa, baik yang di dalam negeri maupun yang di luar negeri, baik si kaya
maupun si miskin, baik si muda maupun si tua, merasakan adanya bentuk pengakuan
dari pemerintah terhadap keeksistensian diri mereka di Negara Indonesia. Hak mereka
yang tercantum dalam pancasila ayat 5 “keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia” bukan hanya isapan jempol semata. Perlahan namun pasti, seluruh
rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Marauke, merasakan perlakuan yang sama, kesejahteraan
yang nyata, dan keadilan yang tanpa pandang bulu.
Kita
tarik contoh konkrit yang sedang berlangsung yaitu pembangunan Trans-Papua di
Indonesia bagian timur tepatnya di tanah Papua. Dahulu akses jalan dari satu
tempat ke tempat yang lain disana sangat tidak manusiawi. Sebagian besar
daerahnya masih diliputi hutan belantara sehingga yang terjadi adalah
meroketnya harga sembako dan kebutuhan pokok di daerah tersebut. Namun kini kondisi
Papua sudah berubah. Pemerintah secara bertahap membangun Trans-Papua yang
membentang dari Provinsi Papua hingga Provinsi Papua Barat. Diprediksikan pada
tahun 2019 jalan sepanjang 4.330 Km sudah saling tersambung dan dapat digunakan
seutuhnya. Dengan adanya trans-papua ini, maka akan terciptanya interkoneksi
antar satu daerah dengan daerah yang lainnya sehingga harga-harga sembako di
daerah tersebut dapat ditekan.serendah mungkin hingga setara dengan harga di
pulau jawa.
Pembangunan Trans-Papua merupakan salah
satu contoh konkrit dari puluhan program pembangunan yang pemerintah sudah
lakukan. Masih banyak lagi pembangunan-pembangunan yang sudah pemerintah
rampungkan dalam kurun waktu 3,5 tahun seperti diantaranya, revitalisasi
Bandara DEO di Sorong, Papua Barat; pembangunan Bandara International Jawa
Barat di majalengka dan Bandara Internasional Ahmad Yani di Semarang; pembangunan
7 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di bebrapa wilayah perbatasan Indonesia; pembangunan
49 bendungan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia; pembangunan Pembangkit
Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Kabupaten Sidrap dan masih banyak yang lainnya. Semua
ini merupakan usaha konkrit pemerintah untuk menghadirkan kesejahteraan dan
keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Namun mega proyek yang sedang
pemerintah garap ini tidaklah gratis. Jika hanya mengandalkan APBN, APBD, Pajak
dan Retribusi, hal itu sangat jauh dari kata cukup. Maka mau tidak mau, suka
tidak suka, pemerintah terpaksa harus menarik investasi dari luar negeri dengan
menerbitkan surat utang agar proyek yang sedang digarap dapat berjalan dengan
lancar. Pemerintah harus menelan pil pahit bahwa setiap perbuatan selalu ada
konsekuensinya. Tidak tanggung-tanggung, menurut Bank Indonesia (BI), Utang
Luar Negeri Indonesia pada akhir Januari 2018 meningkat 10,3% menjadi 357,5
miliar dollar AS atau setara dengan Rp. 4.915 triliun (kurs Rp. 13.750 per
dollar AS) dibandingkan tahun lalu. Jika dilihat dari kacamata ekonomi, hal ini
secara perlahan akan berdampak pada APBN sehingga pemerintah mau tidak mau
harus mengurangi alokasi belanja Negara dalam berbagai sektor, seperti sektor
pendidikan, kesehatan dan pelayanan umum. Maka dari itu pemerintah haruslah
cerdas dalam mengefektifkan segala program pembangunan yang dicanangkan agar
dana pinjaman luar negeri tidaklah menjadi tabungan masalah bagi generasi
mendatang melainkan sebagai penyokong dalam merealisasikan kesejahteraan bagi
rakyat Indonesia.
Niatan baik pemerintah haruslah disambut,
diapresiasi dan didukung oleh segenap lapisan masyarakat, tanpa melihat apa
latar belakang dan apa statusnya. Karena sejatinya segala kebijakan yang
pemerintah canangkan bukan lain ialah untuk mewujudkan kesejahteraan dan
keadilan bagi seluruh rakyatnya. Mahasiswa selaku Agent of Change dan Social
Control memiliki tanggung jawab yang vital dalam menyelaraskan segala
program-program yang pemerintah jalankan, bukan malah menjadi kambing hitam
ditengah masyarakat. Disisi lain pemerintah selaku pemegang kekuasaan dan pembuat
kebijakan haruslah siap menerima kritikan yang digaungkan oleh masyarakat, agar
segala kebijakan dapat selaras dengan kebutuhan dan keinginan rakyat Indonesia.
Komentar
Posting Komentar